Di tengah drama Trek Gaza dan penolakan kunjungan warga negara Indonesia, Israel sesungguhnya mau banyak terhadap industri pariwisatanya.

Menelisik Wisata Gurun Negev, Israel

Sepanjang tahun lalu sebanyak 3,6 juta turis datang ke sini. Beberapa besar berasal dari Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Jerman dan Inggris.

Perputaran uang dari sektor wisatanya juga tidak dapat dibilang kecil. Sepanjang tahun lalu negara berpenduduk 5 juta orang ini mendapat profit sebanyak US$5,8 miliar.

Semenjak permulaan tahun ini Israel mempromosikan banyak destinasi tamasya baru demi mendatangkan turis.

Selain obyek tamasya religi, Badan Pariwisata Israel juga mempromosikan kawasan tamasya glamour camping (glamping) atau tenda mewah, tamasya medis hingga tamasya sand-boarding atau selancar di padang pasir.

Udara internasional baru juga sedang dibangun. Di atas lahan berpasir yang berbatasan dengan Laut Merah dan Yordania.

Jumlah kamar hotel juga ditambah, dari yang ketika ini berjumlah 2.000 pintu menjadi 5.000 pintu dalam enam hingga tujuh tahun akan datang.

Menteri Pariwisata Israel mau pengembangan tersebut dapat meningkatkan jumlah kedatangan turis hingga sebanyak 20 persen hingga dua hingga tiga tahun ke depan.

Menawarkan Gurun Pasir

Israel dikelilingi oleh gurun pasir. Lahan kering itu menjadi alat promosi tamasya mereka dengan motto ‘selangkah ke gurun pasir di Eropa’.

Wilayah gurun pasir di Negev menjadi destinasi tamasya yang dipromosikan mereka pada tahun ini.

Menteri Pariwisata Israel Uri Sharon mengatakan bahwa Israel dapat menjadi destinasi tamasya musim panas kala musim dingin melanda beberapa besar kawasan benua Eropa.

Negev berjarak dua jam perjalanan dari Udara Internasional Tel Aviv.

Ada banyak aktivitas tamasya alam yang dapat dilakukan Negev, kata Sharon, seperti mulai dari bersepeda hingga memanjat tebing.

Tebing Ramon juga dapat dikunjungi. Obyek tamasya alam ini mempunyai sejarah dan wujud yang luar biasa, mirip dengan Grand Canyon di Amerika Serikat yang sudah sering diulas dalam berjenis-jenis website tamasya.

Masyarakat sekitar Negev sudah mulai merasakan akibat positif industri pariwisata untuk perekonomian mereka.

Salaam El Wadj, salah satu warga yang beralamat di sana, mengatakan bila semakin banyak turis yang datang ke Negev. Di rumahnya yang sederhana ia menyambut mereka sehangat mungkin sambil menyebutkan sejarah tempat kelahirannya.

Supaya turis lebih memahami sejarah kawasan Negev, Wadj memberi saran agar mereka mendaki lintasan Negev Highland Trail sepanjang 12 kilometer.

Masih di sekitar kawasan Negev, ada juga perkebunan anggur yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Perkebunan tersebut sudah diwariskan turun temurun semenjak 2.000 tahun yang lalu.

Hasil kebun tersebut diolah oleh perusahaan minuman wine Carmey Avdat, yang memproduksi minuman anggur variasi Merlot, Cabernet Sauvignon, Chardonnay sebanyak 5.000 botol per tahunnya.

Sebagai peneman anggur, masyarakat sekitar juga memproduksi keju dari susu kambing yang mereka ternakkan di sebelah perkebunan.

Negev memang menawarkan nuansa pedesaan. Tapi ada juga nuansa kemewahan yang dapat dirasakan turis melewati glamping.

Dalam zona khusus, turis bakal bermalam di tenda dengan fasilitas dan layanan bak hotel bintang lima. Langit malam yang cemerlang berbintang dapat dirasakan dalam aktivitas ini.

Mandi air panas dan makan kuliner yang diracik chef pribadi ialah sejumlah layanan yang ditawarkan.

Categories: Wisata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *