Web Series, Tontonan Alternatif di Youtube

teknorus.com Mungkin Anda seperti saya, sudah merasa jenuh dengan tayangan televisi lokal. Karena bosan, kita sering kali le bih banyak menghabiskan waktu di depan komputer, berselancar di dunia maya mencari hiburan al ternatif selain televisi. Hiburan tersebut bi sa jadi berasal dari video klip di website video sharing seperti YouTube dan Vimeo. Banyak ragam hiburan video yang bisa kita nikmati dari kedua website tadi. Video viral dan video musik adalah dua bentuk hiburan online yang banyak digemari. Dan satu bentuk video viral yang semakin digemari akhir-akhir ini adalah web series. Web Series adalah tayangan video berseri pendek, bisa berupa film seri, tutorial, informasi berita, tips-trik, dan sebagainya, yang dibuat khusus untuk konsumsi online. Inilah yang membedakan web series dengan video-video lain di Internet. Tayangan web series dari semula memang dirancang khusus disebarkan dan dinikmati secara online. Jadi bila ada serial drama (sinetron) televisi yang di-upload ke website video-sharing, maka itu tidak termasuk dalam kategori web series. Web series pertama kali muncul pada tahun 90-an di Amerika Serikat (AS).

Baca Juga : Game PSP TerbaikĀ 

Awal kemunculan

Cnet.com melaporkan, tayangan web series pertama yang meraih kesuksesan adalah “The Spot” besutan Scott Zakarin, produser muda yang mengawali karirnya dari membuat iklan pendek pada tahun 1955. “The Spot,” yang kemudian disebut-sebut sebagai versi web dari “Melrose Place,” bercerita tentang kehidupan remaja di sebuah rumah sewaan yang bernama “The Spot” di Santa Monica, California, AS. Karakter yang bermain dalam “The Spot” (disebut “Spotmates”) berinteraksi dengan fans-nya (disebut “Spotfans”) melalui blog, e-mail, atau melalui message board (disebut “Spotboards”). Melalui interaksi tersebut, fans “The Spots” bisa memberikan masukan untuk episode berikutnya, bahkan menentukan alur cerita sesuai keinginan mereka. Karena sifatnya yang interaktif itulah, saat itu “The Spot” meraih kepopuleran. Bahkan dalam sehari, website-nya (thespot. com) mendapatkan 80.000-100.000 hits! Angka yang terbilang fantastis bahkan untuk ukuran satu video YouTube yang tayang saat ini. Kesuksesan “The Spot” kemudian diikuti oleh produser lain, seperti “Porkchops” dan “Rat Chicken” buatan studio Bullseye Art. Saat ini setidaknya ada tiga genre utama web series, yaitu hiburan, promosi, dan edukasi.

Era media sosial

Hingga sampailah di tahun 2005, era dimana website video-sharing seperti YouTube mulai populer. Di era tersebut, web series seolah menemukan rumah barunya. Produser tidak harus repot membuat website sendiri untuk menampilkan hasil karyanya di Internet. Mereka cukup membuat video pendek dan meng-uploadnya ke YouTube. Bermunculannya berbagai media sosial yang mewabah seperti Friendster, MySpace, hingga kemudian Facebook dan Twitter yang banyak digunakan belakangan ini, turut membantu penyebaran web series. Karena YouTube dan berbagai media sosial itulah orang mulai sadar kekuatan video online. Banyak yang meng-upload video di website semacam YouTube untuk mencari kepopuleran dan kredibilitas. Artis-artis pemula, komedian, dan penggemar film beramai-ramai tampil unjuk diri di website video sharing tersebut, berharap video mereka dibagikan di website media sosial dan dilihat lebih banyak orang lagi. Fenomena seperti ini juga yang belakangan muncul di Indonesia. Kita masih ingat dengan duet Shinta-Jojo dengan video lipsync “Keong Racun” yang berhasil membius audiens di Indonesia. Juga seorang anggota Polisi berpangkat Briptu yang bernama Norman Kamaru dengan video lipsync “Chaiyya Chaiyya.” Keduanya hanya memanfaatkan perangkat perekam video sederhana dan meng-uploadnya ke YouTube untuk mendapat perhatian publik, walaupun hanya berlangsung sesaat. Duet video online dan media sosial inilah yang mendukung penyebaran web series. Ditambah lagi dengan dukungan koneksi Internet yang kian cepat dan teknologi mobile yang memudahkan pengguna menikmati konten dimana saja, kapan saja. Jika melihat kembali ke tahun 1995 ketika pertama kali web series muncul, saat itu kecepatan Internet belum seperti sekarang. Namun ternyata “The Spot” mampu meraih angka hits yang tinggi, dan kebanyakan penontonnya (mungkin malah semua) baru bisa mengakses dari desktop PC.

Web series di Indonesia

Web series mulai banyak beredar di Indonesia sekitar tahun 2008. Pada awalnya web series ini berupa video blogging dan di populerkan oleh komunitas ID Podcast pada tahun 2009-2010. Pada tahun itu belum banyak yang melakukan aktivitas video blogging. Hal tersebut dikarenakan masih ada hambatan koneksi Internet. Baru segelintir orang yang bisa menikmati streaming video secara lancar. Berbeda dengan kondi- si sekarang ketika kecepatan Internet bisa dibilang lebih baik. Ditambah dengan maraknya perangkat mobile yang memungkinkan penggunanya menikmati konten video online bukan hanya di depan PC saja, namun di mana saja dan kapan saja. Hingga pada awal tahun 2011, berdirilah komunitas web series di Indonesia yang diprakarsai oleh aktor sekaligus penggiat dunia kreatif, Dennis Adhiswara. Menurut Dennis, komunitas web series Indonesia dibentuk atas dasar keprihatinan akan kualitas tayangan televisi nasional yang sudah dianggap “memprihatinkan”. Melalui wadah tersebut, anggota komunitas dapat saling berbagi pengetahuan, bukan hanya bagaimana cara membuat web series yang menarik, namun juga cara memasarkannya. Dennis mengungkapkan bahwa saat ini ada puluhan kanal web series hasil karya produser Indonesia yang tersebar di Internet. Kanal-kanal tersebut terbagi menjadi beberapa kategori seperti hiburan (film, musik, komedi, ), informasi (berita, umumnya softnews), dan tips dan trik (how to). Beberapa kanal yang mendapatkan banyak perhatian dari netizen antara lain kanal film superhero pendek Jtoku, kanal “Jalan-Jalan Men” milik malesbangetdotkom, tips sehari-hari yang dibagi oleh kanal Updaterus, tips visual effect dan tutorial pendek dari kanal Tara Arts Movie, serta masaktv dengan acara masak-memasaknya. Ada juga kanal komedi milik Radiyta Dika (radityadika). Serial-serial pendek tersebut selain bisa disaksikan di YouTube, juga bisa dinikmati melalui televisi Internet seperti Telios.tv, UseeTV, dan lain-lain. Mayoritas kreator video web series di Indonesia memiliki latar ketertarikan akan dunia tertentu. Seperti Jtoku yang berasal dari komunitas penggemar live-action hero Jepang (disebut Tokusatsu). Komunitas ini mencoba membuat superhero ala Indonesia sendiri lengkap dengan kostumnya, seperti yang bisa dilihat dalam videonya Garuda Man. Atau dari kanal Cosplay: The Series yang dibuat oleh komunitas cosplay, performance art dimana pesertanya mengenakan kostum atau aksesoris seperti tokoh film atau komik Jepang.

Potensi bisnis web series

Dibanding dengan negara-negara di ASEAN, jumlah penonton dan peng-upload video online di Indonesia memiliki selisih yang jauh. Masyarakat Indonesia masih banyak yang pasif, ha-nya menonton saja, sedikit yang membuat video. Data yang dirilis oleh Comscore Media Metrix, terdapat 8,8 juta unique viewer video online di Indonesia. Menurut Dennis, angka itu adalah pasar yang potensial, karena mereka (8,8 juta penonton video online) mau mengeluarkan uang untuk menonton video. Jumlah itu belum termasuk pengguna mobile yang menikmati video menggunakan smartphone atau tablet. YouTube kini juga melirik peng-upload-peng-upload video di websitenya untuk dijadikan sebagai partner. YouTube akan memilih video-video yang sering dikunjungi dan menawarkan user-nya untuk memasang iklan di awal video mereka. Salah satu peng-upload web series yang sukses dengan strategi ini adalah Diwantara Anugrah Putra dengan kanalnya di YouTube yang diberi nama Tara Arts Movie. Diwantara boleh berbangga, sebab kanal miliknya itu menjadi partner YouTube pertama di Indonesia pada tahun 2011. Diwantara menjelaskan, untuk setiap 1000 view dirinya dibayar US$1. Sementara kalau iklannya di klik, ia mendapatkan US$3. Fenomena web series nampaknya juga dilihat oleh vendor-vendor ternama bisa dijadikan medium untuk memasarkan produk atau layanannya. Di Amerika Serikat, web series telah menjadi ajang promosi beberapa brand, sehingga sering disebut dengan branded entertainment. Brand-brand ternama rela menggelontorkan dana bagi kreator web series yang telah meraup massa besar.

Mampukan bersaing dengan TV?

Harus diakui, dunia pertelevisian adalah dunia yang telah matang dan memiliki pasarnya sendiri. Kehadiran televisi yang mampu menjangkau daerah-daerah terpencil menjadikannya sulit dikalahkan oleh web series yang mengutamakan koneksi Internet. Di Indonesia, masalahnya makin rumit karena kendalanya tak hanya kualitas Internet, namun juga persebarannya yang tak merata. Oleh karena itu, episode-episode web series belum bisa menjadi pesaing serius acara televisi. “Sementara, kualitas acara televisi lokal kita sangat memprihatinkan,” terang Dennis. Namun Dennis sendiri tidak bisa menyalahkan stasiun televisi. “Ada siklus lingkaran setan di sini, penonton kecewa dan menyalahkan production house (PH), sementara PH bergantung pada stasiun televisi. Stasiun televisi pun menyalahkan tuntutan pasar dan kembali lagi ke penonton,” paparnya. Jika kita bisa menilai satu tontonan itu jelek, tentunya kita tahu yang bagus itu seperti apa. Jadi mulailah berkreasi membuat konten video yang berkualitas dan menjadikannya web series yang bisa ditonton banyak orang. Siapa tahu, video yang kita buat dilirik oleh banyak pihak yang berkepentingan di luar sana, dan menjadikannya lahan bisnis. Layaknya start-up, namun dalam bentuk video

Categories: Entertainment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *